IMG-LOGO
Flash News :
Cerpen

Orang Orang Yang Masuk ke Dalam

oleh Admin - 1 detik yang lalu Dilihat 30 kali 0 Komentar
IMG

Oleh Ilham Wahyudi





Akhirnya penggeledahan itu terlaksana juga. Meskipun sudah satu bulan sejak operasi tangkap tangan menghebohkan seluruh negeri. Badan Pengawas Komisi Pemberangusan Korupsi dengan bangga mengumumkan persetujuan penggeledahan. Dengan sigap, tim penyidik pun bergegas menuju lokasi. 





Di kantor Partai Crootz, sebuah acara sudah disiapkan oleh tuan rumah untuk menyambut penyidik Komisi Pemberangusan Korupsi. Sungguh, tak secuil pun ada ketakutan atau kecemasan yang terbit dari air muka para pengurus Partai Crootz. Padahal penggeledahan ini terkait kasus tangkap tangan yang melibatkan salah satu anggota mereka dengan pimpinan Panitia Pemilihan Umum.





Sampai di lokasi, tim penyidik ingin langsung melakukan penggeledahan. Surat perintah penggeledahan pun diserahkan. Tetapi tuan rumah menolak. Lebih tepatnya menahan. Mereka menginginkan tim penyidik terlebih dulu mengikuti rangkaian acara yang sudah mereka susun. Sebab tanpa rangkaian acara yang tersusun rapi, acara penggeledahan akan terasa hambar dan kurang bermartabat. Tak ingin pulang sia-sia dan tak ingin ada keributan, tim penyidik patuh mengikuti keinginan tuan rumah. 





Dan untuk mempersingkat waktu, pembawa acara pun langsung menuju panggung acara yang sudah disiapkan tuan rumah. 





“Selamat siang. Selamat datang di kantor Partai Crootz. Partai wong jujur. Partainya seluruh rakyat negeri. Baiklah, perkenalkan nama saya Lince. Saya adalah salah satu anggota Partai Crootz yang kebetulan dipercaya membawakan acara hari ini. Hari di mana seluruh rakyat negeri bisa menyaksikan Partai Crootz sangat kooperatif dalam mendukung pemberangusan korupsi di negeri tercinta ini,” buka pembawa acara.  





“Baiklah. Agar tidak membuang-buang waktu. Selanjutnya kita panggil Bapak Bokalince selaku perwakilan dari tuan rumah untuk memberikan sambutannya.”





Bapak Bokalince naik ke panggung. Sangat terlihat panggung itu baru berdiri tadi pagi. Buktinya, panggung seluas itu hanya ada sepasang mikrofon, sepiker, dan sebuah spanduk yang berbunyi, SELAMAT DATANG PENYIDIK KOMISI PEBERANGUSAN KORUPSI. SEMOGA ACARA PENGGELEDAHAN KALI INI SUKSES DAN BERJALAN LANCAR.





“Selamat siang. Salam sejahtera untuk kita semua. Hari ini kita sangat berbahagia. Partai Crootz sangat mengapresiasi acara penggeledahan yang akan dilakukan tim penyidik. Meskipun sempat tertunda selama sebulan, tetapi akhirnya dapat juga kita laksanakan. Kami mohon maaf jika sambutan kami kurang berkenan. Lain waktu akan kami perbaiki. Dan untuk tidak memperpanjang kalam, atas nama Partai Crootz saya ucapkan selamat bekerja kepada seluruh penyidik. Semoga acara penggeledahan kali ini berlangsung bahagia dan meninggalkan kesan yang dalam. Terima kasih.”





Bapak Bokalince turun dari panggung. Pembawa acara melanjutkan kembali tugasnya. “Selanjutnya kita persilakan kepada ketua tim pengawas untuk memberikan kata sambutan. Waktu dan tempat kami persilakan.”     





“Terima kasih saya ucapkan atas kesempatan yang diberikan kepada saya selaku ketua tim pengawas. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua. Hari ini adalah hari yang bersejarah. Bagaimana tidak. Inilah kali pertama kami sebagai tim pengawas menggunakan wewenang kami dalam upaya mendukung pemberangusan korupsi di negeri tercinta. Kami tentu sangat senang dan berbangga hati, karena akhirnya memberikan izin kepada tim penyidik untuk melakukan acara penggeledahan yang satu bulan belakangan begitu dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat. Tentu kewajiban kami untuk tidak melarut-larutkan jadwal acara penggeledahan. Maka, waktu satu bulan kami rasa cukup bagi Partai Crootz mempersiapkan diri sebelum acara penggeledahan. Selanjutnya, kami berharap acara penggeledahan bisa berjalan sukses dan lancar. Tak lupa pula, kami berdoa semoga yang ingin dicari dan dibongkar dalam acara penggeledahan dapat menuai hasil yang maksimal. Terima kasih.”





Ketua tim pengawas turun dari panggung. Di bawah panggung, ia sudah ditunggu para wartawan. Namun ia menolak diwawancara. Sedang tidak enak badan, katanya.





Sementara itu, di atas panggung saat pembawa acara ingin memulai kembali, tiba-tiba ia diminta turun. Sepertinya ia lupa memasukkan salah satu perwakilan penyidik dalam susunan acara. Ia diingatkan agar menyusun ulang jadwal acara. Setelah menyusun kembali jadwal acara, pembawa acara mempersilakan perwakilan tim penyidik memberikan kata sambutan.





“Selamat siang. Salam kejujuran untuk kita semua. Sebelumnya melalui kesempatan yang baik ini, kami selaku tim penyidik ingin meminta maaf kepada seluruh rakyat atas mundurnya jadwal acara penggeledahan. Seharusnya bulan lalu adalah waktu yang tepat untuk melakukannya. Tetapi, seperti yang sudah kita sama-sama tahu, tim pengawas belum memberikan kami izin untuk melakukan acara penggeledahan. Sehingga acara penggeledahan tidak bisa kami laksanakan. Akan tetapi, kami percaya Partai Crootz sebagai partai besar di negeri ini akan menjunjung nilai-nilai kejujuran. Maka dengan keyakinan itulah, apa yang sedang kami cari pasti akan membuahkan hasil yang maksimal. Dan untuk mempersingkat waktu, saya akhiri saja sambutan saya selaku perwakilan tim penyidik. Terima kasih dan salam kejujuran untuk kita semua.”





Para hadirin bertepuk tangan. Pembawa acara kembali lagi ke atas panggung. Ia kemudian mengumumkan bahwa acara selanjutnya adalah ramah-tamah yang disambung dengan istirahat makan.





Opor ayam, gulai kakap, gulai kambing, sapi lada hitam, dan telur dadar telah terhidang tak jauh dari panggung acara. Tidak ketinggalan pula aneka kue basah, kue kering, dan minuman yang menyegarkan tenggorokan.





Pembawa acara mempersilakan seluruh hadirin untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Tak sungkan, mereka pun melahap semua hidangan. Dalam hitungan yang tak terlalu lama, seluruh hidangan akhirnya ludes tak bersisa. Nasib baik semua kebagian. Sehingga pertengkaran akibat berebut makanan tidak perlu sampai terjadi.





Selang beberapa saat kemudian, pembawa acara pun kembali naik ke atas panggung dan bersiap-siap memulai acara kembali. Akan tetapi, ketika pembawa acara ingin memulai acara, mendadak salah seorang dari hadirin menyela. 





“Menurut saya alangkah baiknya kita berdoa dulu sebelum acara penggeledahan dimulai. Agar semua yang hadir mendapatkan berkah dari acara ini. Bukankah kita selalu diajarkan berdoa sebelum melakukan aktivitas apa pun? Bagaimana tuan pembawa acara?”





Pembawa acara bingung menjawab pertanyaan yang disodorkan padanya. Walaupun sebenarnya ia setuju dengan pendapat itu. Akan tetapi para hadirin tidak semuanya setuju. Malah sebagian sudah tak sabar ingin segera memulai acara penggeledahan. Para hadirin pun terbelah dua. Satu ingin lanjut ke acara penggeledahan, dan satunya lagi ingin berdoa dulu sebelum acara penggeledahan. 





Beberapa saat suasana menjadi gaduh sampai akhirnya Bapak Bokalince tampil menjadi penengah. Dia meminta semua untuk kembali fokus pada acara penggeledahan ketimbang perdebatan yang tak ada ujungnya. Beliau pun akhirnya memutuskan untuk berdoa lebih dulu. Alasannya, agar berkah dan rida Tuhan menyelimuti semua hadirin.  





Dua kubu itu pun setuju. Mereka menunjuk seorang lelaki paruh baya untuk memimpin doa. Kalau dilihat dari penampilan, lelaki itu sepertinya orang yang cukup disegani dan punya pengaruh. Buktinya para hadirin serentak memberi hormat saat dia naik ke atas panggung.





“Baiklah para hadirin. Agar acara hari ini berjalan lancar dan mendapat berkah. Marilah kita mulai dengan sebuah doa yang baik. Semoga Tuhan menolong dan mendukung acara kita. Untuk tidak memperlama durasi, doa kita mulai saja. Namun, sebelum berdoa, saya ingin mengingatkan jika doa yang kita baca tidak usah kita lafazkan. Cukup dalam hati saja. Mulai!”





Selesai membaca doa, acara yang ditunggu nantikan itu akhirnya tiba. Seluruh penyidik—tak terkecuali—terlebih dahulu dikalungkan bunga oleh Bapak Bokalince. Mereka benar-benar bak pahlawan. Dengan kepala tegak mereka pun memasuki kantor Partai Crootz. Sementara itu, para hadirin mendorong mereka dari belakang dengan tepuk tangan yang meriah. Wajah para hadirin pun terlihat begitu bahagia.





Kemudian.





Satu jam. Lima jam. Dua belas jam. Bahkan sudah empat hari berlalu, tim penyidik tak jua keluar dari dalam kantor Partai Crootz. Para hadirin yang menyaksikan acara penggeledahan mulai terserang lemas dan rasa cemas. Wartawan juga mulai berani berspekulasi macam-macam. Malahan salah seorang dari mereka coba menghubungi nomor penyidik. Tapi tak tersambung! Para hadirin tambah cemas. 





Lelah menunggu dan lelah dipermainkan rasa cemas, akhirnya beberapa hadirin nekat masuk ke dalam. Bagai pengulangan peristiwa, semua yang menyusul masuk, tak juga keluar. Nyaris putus asa, mereka pun berembuk. Hasilnya mereka memutuskan untuk kembali mengirim beberapa orang masuk ke dalam kantor Partai Crootz. Namun, hal yang sama kembali berulang. Begitu terus hingga jumlah mereka semakin menyusut.





Melihat kondisi hadirin yang terus menyusut, salah seorang wartawan pun berinisiatif memanggil dan menghimbau warga setempat serta seluruh rakyat negeri untuk datang ke kantor Partai Crootz. Dengan menggunakan kameranya, ia melakukan siaran langsung dari tempat kejadian.





Upaya wartawan itu cukup berhasil. Tak lama warga masyarakat yang masih peduli dengan penegakan hukum pun mulai riuh kembali di depan kantor Partai Crootz. Bergantian mereka masuk ke dalam. Namun, seperti yang sudah-sudah, yang masuk tak pernah keluar kembali.





Wartawan yang melakukan siaran langsung itu pun semakin panik. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Dan dalam kepanikkannya, tiba-tiba seorang bocah belasan tahun menegurnya. Lalu mengajaknya ke suatu tempat.





“Ikuti saya, Bang!”





“Kemana, Dik?”





“Ayo, ikut saja, Bang!”





Anak itu membawa si wartawan keluar dari kerumunan warga yang berdiri di depan kantor Partai Crootz. Sepertinya anak itu ingin membawa si wartawan ke belakang kantor Partai Crootz dengan cara memutar melewati perkampungan warga yang kumuh.





Dan betapa terkejutnya si wartawan ketika sampai di belakang kantor Partai Crootz. Tim penyidik dan masyarakat yang satu persatu masuk ternyata sedang pesta pora di belakang kantor Partai Crootz. Mereka tertawa dan menari-nari seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa. Padahal di luar orang-orang menunggu mereka dengan harap dan cemas. 





Marah terhadap apa yang ia saksikan, si wartawan pun mulai merekam. Namun ketika kamera ia nyalakan dan ia arahkan ke kerumunan orang yang sedang pesta pora, tiba-tiba kameranya menangkap sesuatu yang aneh. Tubuh orang-orang yang coba ia rekam mendadak ditumbuhi bulu-bulu hitam pekat. Mulut mereka juga terlihat runcing memanjang dengan gigi-gigi bagai belati. Seperti hewan pengerat yang sering bersembunyi di got. 





Wartawan itu kaget. Ia lepaskan bidikan kameranya. Memastikan apa yang dilihat mata kamera sama dengan matanya sendiri. Dan benar, orang-orang itu memang benar-benar berubah. Mendapati hal itu, si wartawan pun lanjut merekam. Namun saat ia bidikan kembali kameranya, manusia-manusia berbulu hitam pekat dan bermulut runcing memanjang itu mendadak sudah mengerumuninya dan serentak menyerangnya.





Wartawan itu terdesak. Sungguh ia tak berdaya melawan. Apalagi anak yang membawanya itu juga tiba-tiba menghilang. Ia pun akhirnya roboh dalam kempungan manusia-manusia pengerat itu. Pelan-pelan tubuh wartawan itu hancur.





Sementara itu di depan kantor Partai Crootz , orang-orang makin ramai berdatangan serta semakin tak sabar ingin masuk ke dalam. Bahkan sampai tulisan ini disiarkan, orang-orang tak kunjung berhenti mencoba masuk ke dalam kantor Partai Crootz.





Surabaya, 2020










*ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU Timur dan seorang Fuqara Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya telah dimuat dan ditolak redaktur. Buku kumpulan cerpennya “Kalimance Ingin Jadi Penyair” akan segera terbit.




Sumber dari Website LP Maarif PWNU Jawa Tengah

List Komentar

Tulis Komentar

Email Anda tidak ditampilkan dipublik. Semua wajib diisi.